Altruisme: Sikap Mensejahterakan Orang Lain di Atas kepentingan Diri Sendiri
Kami Relawan - 4 years ago
Altruisme: Sikap Mensejahterakan Orang Lain di Atas kepentingan Diri Sendiri
Definisi Altruisme
Perilaku tolong-menolong antar sesama merupakan hal yang lazim dilakukan manusia sebagai makhluk sosial, karena sejatinya manusia tidak dapat hidup sendiri atau mencukupi kebutuhannya sendiri.
Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita menjumpai orang-orang baik dengan tulus dan tanpa pamrih bersedia menolong orang lain, berbagi sesuatu, dan bahkan mengutamakan kepentingan orang lain dari pada dirinya sendiri. Dalam istilah psikologi ternyata perilaku tolong-menolong antar sesama ini disebut altruisme.
Altruisme pertama kali diciptakan oleh seorang filsuf bernama Auguste Comte. Secara etimologi kata altruisme berasal dari bahasa Prancis yaitu Autrui dan dalam bahasa Latin Alteri yang memiliki arti orang lain. Jika diperhatikan, kata altruisme adalah perbuatan yang berorientasi pada kebaikan orang lain.
Secara terminologi altruisme adalah dorongan seseorang dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan atau mengutamakan kepentingan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri (Batson, 2011).
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Kesejahteraan adalah hal atau keadaan sejahtera; keamanan, keselamatan, ketenteraman; jiwa kesehatan jiwa; sosial keadaan sejahtera masyarakat.
Altruisme diartikan oleh Wilson dan Akert (Taufik, 2012) mendefinisikan altruisme sebagai pertolongan yang diberikan secara murni, tulus, tanpa mengharap balasan (manfaat) apa pun dari orang lain dan tidak memberikan manfaat apa pun untuk dirinya.
Menurut Myers (2012) altruisme adalah motif untuk meningkatkan kesejahterkan orang lain tanpa sadar untuk kepentingan pribadi seseorang. Sedangkan menurut Dovidio (Manstead, 1996), altruisme sebagai kesukarelaan dan sengaja membantu orang lain dengan tujuan mengurangi kesilitan orang lain.
Dari kesimpulkan dari uraian diatas, bahwa altruisme adalah perilaku tolong-menolong yang dilakukan dengan niat tulus dan tanpa pamrih untuk mensejahterkan orang lain atau mengutamakan orang lain diatas kepentingannya sendiri, tanpa mengharapkan sesuatu atau keuntungan yang akan didapatkannya.
Kenapa Orang Senang Berbuat Baik?
Dilansir dari cnnindonesia.com - Sains menunjukkan, manusia secara biologis diatur untuk menjadi baik. Kemampuan untuk berbuat baik bisa terus berkembang jika dilatih dan dibiasakan. Berikut beberapa manfaat berbuat baik:
1. Meredakan Kecemasan
Cemas adalah perasaan umum yang dialami banyak orang. Selain meditasi, olahraga, dan pengobatan-pengobatan lainnya, berbuat baik juga bisa membantu meredam kecemasan. Sebuah studi yang dilakukan oleh University of British Columbia menemukan, tindakan baik dapat meningkatkan suasana hati yang bertahan selama empat pekan penelitian.
2. Mengurangi Stres
Dalam kehidupan yang sibuk, stres adalah hal yang lumrah. Namun, jika tak dikontrol, stres bisa berujung pada gangguan mental yang lebih parah.
Membantu orang lain memungkinkan diri Anda untuk keluar dari pikiran akan hal-hal yang memicu stres. Perilaku baik juga membuat Anda lebih siap untuk menangani situasi stres.
Sebuah studi menemukan hubungan antara perilaku afiliasi dengan stres. Perilaku afiliasi merupakan perilaku yang membangun hubungan dengan orang lain. Studi menemukan, perilaku afiliasi menjadi komponen penting dalam mengatasi stres. Terlibat dalam kegiatan sukarela ditemukan menjadi strategi paling efektif untuk mengurangi dampak stres.
3. Imbalan Secara Kognitif
Imbalan ini berupa pandangan kita terhadap diri kita sendiri setelah membantu orang lain. Kita akan memandang diri kita sebagai orang yang baik dan berempati, dan tentunya ini akan memberikan perasaan yang nyaman untuk diri kita sendiri. Imbalan ini pun berkaitan dengan respon otak yang muncul ketika kita menolong orang lain.
Altruisme yang Berlebihan Tidak Baik
Sebelumnya sudah dijelaskan bahwa altruisme merupakan perilaku menolong orang lain di atas kepentingannya sendiri tanpa mengharap imbalan atau tanpa mengharapkan apapun yang akan menghadirkan keuntungan bagi pelakunya, baik itu secara sosial atau psikis.
Meski sikap ini sangat terpuji dan positif, ternyata altruisme juga dapat berdampak buruk bagi pelakunya jika dilakukan secara berlebihan. Altruisme ini erat kaitanya dengan sesuatu yang banyak terjadi saat ini di sekitar kita, yaitu sulitnya mengatakan “tidak” atau yang biasa dikenal people pleaser.
Dikutip dari tirto.id - People pleaser merupakan sebutan bagi seseorang yang selalu berusaha menyenangkan orang-orang di sekitarnya, dan memiliki kecenderungan untuk melakukan apapun agar orang-orang di sekitarnya tidak kecewa terhadapnya.
Oleh karenanya, seorang people pleaser akan merasa nyaman dan percaya diri lewat pengakuan orang lain. Mereka perlu agar orang lain menyatakan atau menunjukkan bahwa mereka berharga untuk bisa percaya diri.
Apabila ia tidak mendapatkan penerimaan atau pengakuan dari orang lain, seorang people pleaser akan merasa minder, bingung, dan pada tahap tertentu merasa diri tidak pantas serta kurang baik.
Perlu diingat bahwa naluri menolong orang lain juga perlu diimbangi dengan naluri bertahan hidup. Ketika altruisme dilakukan secara berlebihan, bisa saja sikap ini malah berdampak buruk pada diri sendiri.
Tidak ada yang salah ketika kita memang selalu ingin menolong orang lain atau berbuat baik, namun kita tetap harus memperhatikan diri sendiri, jangan sampai kita malah tidak berbuat baik pada diri kita sendiri.
Ditulis oleh: Iqbal Bachtiar
