Tujuan Pendidikan Menurut Bapak Republik Indonesia

Kami Relawan  -  4 years ago
Image placeholder

Para civitas academica dan kaum cerdik cendekia hari ini memposisikan dirinya sebagai manusia terdidik dan terpisahkan dari masyarakat di mana mereka hidup. Dengan segala kepongahan karena merasa mampu memecahkan segala masalah melalui teori dan metode ilmiah kemudian menafikan metode lain yang mereka anggap tidak ilmiah. Namun bukan berarti metode ilmiah tidak penting. Selama masalah tersebut berada pada domain sains, metode yang harus digunakan haruslah ilmiah.

Hari ini para cendekia terhormat itu merasa di atas rata-rata orang lain yang menurut mereka tidak berpendidikan. Padahal sejatinya pendidikan yang mereka kenyam selama ini seyogianya agar menyatu dengan masyarakat. Bukan malah mengasingkan diri sambil berbangga diri.

Dengan begitu kita coba bertanya ulang soal tujuan pendidikan. Apa sebenarnya tujuan pendidikan? Saya akan coba menemukan tujuan tersebut berlandaskan pandangan dari Bapak Rebuplik Indonesia Tan Malaka. Menurutnya tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan.

Secara sederhana, terdapat tiga poin utama yang menjadi tujuan pendidiakn versi kita Tan Malaka, yaitu kognitif, mental, dan afektif. Tiga poin tersebut bila ditingkatkan secara optimal maka akan menciptakan sumber daya manusia yang kreatif dan inovatif. Hal itu dapat menjadi modal utama untuk menjawab tantangan zaman.

Aspek kognitif diungkapkan Tan Malaka dengan “mempertajam kecerdasan”. Kecerdasan merupakan kemampuan kognisi dalam menganalisa, mengobservasi, dan berpikir secara kritis serta logis. Peran logika di sini menjadi sangat penting untuk mengklasifikasi suatu masalah agar mendapat solusinya yang sesuai. Tidak lagi percaya pada takhayul-takhayul dalam mengambil kebijakan atau keputusan yang menyangkut kemaslahatan masyarakat. Hal-hal yang berada pada domain sains harus dituntaskan dengan metode ilmiah.

Selanjutnya mental yang kuat tercermin pada ungkapan “memperkukuh kemauan”. Proses belajar adalah proses yang panjang dan melelahkan. Butuh mental seorang perjuang yang pantang menyerah untuk mendapatkan kemampuan berpikir yang optimal. Sikap mudah menyerah dan bermalas-malasan menjadi penghambat dalam proses pendididkan. Salah satu masalah yang sering dialami adalah kita kerap kali tidak menuntaskan apa yang kita mulai.

Terakhir adalah aspek afektif hal itu terlihat pada “memperhalus perasaan”. Kita ketahui bersama bahwa sains begitu dingin secara emosional. Sains melulu mengedepankan hasil pengamatan indrawi dan seobjektif mungkin. Nah, pendidikan menurut Tan Malaka bukan hanya mampu menyelesaikan peroalan pada doman sains. Tapi juga hubungan antarindividu di masyarakat yang tidak bebas nilai. Seharusnya semakin cerdas seseorang, semakin halus juga hatinya. Sebab ilmu yang tinggi membawa pada sikap penerimaan akan perbedaan. Bukan malah memperuncing masalah dengan mengedepankan ego. Kebenaran tidak dapat dibenarkan bila diutarakan pada konteks ruang dan waktu yang tidak tepat. Di sinilah fungsi kebijaksanaan. Kebijaksanaan hanya mampu dilalui oleh mereka yang berkal budi dan berbudi luhur.

Pendidikan bukan hanya milik sebagian orang. Pendidikan seharusnya tidak terpisahkan dari masyarakat. Sebagai negara penganut paham demokrasi, pendidikan menjadi aset penting untuk menciptakan tujuan demorakrasi yang sesungguhnya. Namun mereka yang mendapatkan pendidikan saat ini kerap kali justru mengasingkan diri dari masyarakat. Hal ini dapt menjadi malapetaka bagi manusia itu sendiri. Sebagaimana yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer, kalau sekolah tinggi hanya menghasilkan bangsat-bangsat saja, akan runtuhlah manusia ini.(hfz)

Categories: Pendidikan

Tags: